FUN LAND BANDA ACEH, TEMPAT TUHAN DITIKAM

4 Agu

FUN LAND BANDA ACEH, TEMPAT TUHAN DITIKAM

Oleh : margono dwi susilo

                Fun Land adalah arena permainan anak yang telah merambah kota-kota besar nusantara. Bagi para ibu, fun land – atau sejenisnya – digunakan sebagai tempat penitipan anak terselubung. Anak ditaruh disana, dibelikan koin, lalu ditinggal belanja, ke salon, arisan atau sekedar ngrumpi. Anak yang masih kecil biasanya ditaruh di stand mandi bola. Si Ibu tentu tidak berani langsung “titip” anak begitu saja. Ada proses pengenalan situasi. Paling tidak si ibu harus kenal dulu dengan salah seorang penjaga. Setelah itu barulah transaksi penitipan terselubung dimulai, tentu dengan pemberian tip sekedarnya. Bagi penjaga stand, ini tentu rejeki tambahan. Mereka yang berpengalaman biasanya meminta syarat tambahan, misalnya si anak harus pakai pempers. Ini merupakan simbiosis mutualisme yang cerdas tetapi kebangetan. Relasi ibu anak menjadi renggang karena dipisahkan oleh kesenangan masing-masing. Anak senang bermain, ibu (atau ayahnya) senang yang lain lagi. Dari sinilah salah satu penyebab kerenggangan hubungan anak dan orang tua. Anak akan lebih happy jika jauh dari orang tua dan berkutat dengan mainan elektronik. Lambat lain anak akan mencari kesenangan dan kebahagiaan sendiri.  Sejak kecil anak diajari bahwa kebahagian itu bukan terletak di keluarga, tetapi pada entitas lain yang serba bendawi. Biasanya si tukang titip sangat royal membelikan koin anaknya, dengan satu tujuan : biar bisa lama ditinggal. Tetapi jangan lekas percaya pada saya, mungkin saya terlalu rumit dalam berpikir sehingga justru gagal menangkap esensi keberadaan arena permainan seperti fun land. Bisa jadi fun land adalah ajang edukasi yang efektif menggantikan orang tua yang bodoh, kuper tapi sok berkuasa.

Atau memang saya rumit, akhirnya saya harus menemani anak ke fun land hampir tiap minggu. Saya berjanji untuk tidak “menitipkan” anak, apapun yang terjadi. Untuk bisa menikmati permainan, saya mengkondisikan kejiwaan seperti laiknya anak-anak. Dan…saya gagal. Karena memang saya bukan orang yang suka main game. Dengan tiga koin saya hanya mampu bertahan beberapa detik permainan Time Crisis 4 – perang pembasmian teroris — dari Namco, sedangkan anak saya mampu naik ke level dua dengan jumlah koin yang sama. Selain Time Crisis 4 anak saya juga suka permainan the house of the death – perang melawan zombie — jilid 4 dari Sega. Buah dari permainan-permainan itu mulai nampak pada anak saya, ia mulai “beringas” dan suka bergaya seperti tentara.

Yang justru memukul saya adalah tatkala pembagian raport kelulusan TK. Kata guru, anak saya memperlihatkan kecenderungan “kekerasan.” Saat pelajaran menggambar, yang digambar bukan gunung, laut, perahu, pohon atau lumba-lumba, tetapi adegan perang, tentara yang terkapar, tank yang meledak dan berbagai jenis senjata duplikasi dari game, semisal : canon, bazoka, handgun, shotgun, machinegun, dan favoritnya—AK-47. Saya semakin dag-dig-dug tatkala Ibu Guru menunjukkan hasil menggambarnya. Ya benar, hampir semua “karya” anak saya adalah adegan peperangan. Dalam perjalanan pulang saya merenung. Adakah yang salah? Apakah permainan di fun land berbahaya, mampu merubah perilaku anak?

Saya mencari jawabnya. Tentu pada teman, buku dan browsing di net. Simpulannya masih remang. Buku memang senantiasa dualistis dan bersyarat, sedangkan teman kebetulan bukan ahlinya. Kitalah jua yang mesti pandai menafsirkan. Dan saya harus mengatakan – semoga ini bukan pembenaran : anak saya bukan menuju ke taraf beringas dan kekerasan tetapi sedang menikmati kegembiraan dalam hal baru dan serba luar biasa. Peluru yang berdesing dan penjahat yang terpental adalah hal baru dan luar biasa bagi anak. Dalam naluri bawah sadar manusia, impuls-impuls kekerasan pasti ada. Itu wajar. Nanti akan berubah sendiri seiiring dengan in put yang kita berikan. Pada akhirnya peran orang tua sangat menentukan. Saya tidak khawatir pada fun land atau sejenisnya, kecuali satu hal : boros.

Pengunjung fun land Banda Aceh luar biasa banyak, dari berbagai kalangan, terutama pada malam liburan. Saat itu ia buka sampai pukul 12 malam. Seperti biasa tidak ada jam terpampang di dinding. Ini sengaja agar orang lupa waktu dan nikmat dalam menghabiskan uang. Saya bisa mendapati pengunjung berpakaian pesantren tradisional sampai yang “melek” fashion. Yang terakhir ini milik para ibu. Entah mengapa pakaian mereka aneh dimata saya. Atau memang mata saya gagap menantap modernitas.

Sesuai tradisi muslim mereka memakai jilbab, tetapi ya itu tadi, maaf, kelihatan norak dimata saya. Jilbab yang seharusnya mencerminkan kesederhanaan dan keanggunan telah dijajah oleh asesories glamour. Ini cerminan kemenangan kapitalisme menghadapi idealisme berbusana. Tugas kapitalime adalah merayu anda untuk membeli barang yang sesungguhnya tidak dibutuhkan. Kalau anda tidak membeli maka anda akan mendapat cap tebal : ketinggalan jaman. Pembuat iklan sangat fasih memberi lebel seperti “jika tidak beli akan menyesal seumur hidup”, lengkap dengan iming-iming diskon. Para ibu di fun land rupanya takut mendapat cap tersebut. Bayangkan, mereka berjilbab, tetapi paduannya : make up dahsyat, tas bermerk, perhiasan berjuntai-juntai dan sepatu hak tinggi – mungkin 15 cm. Saya masih sedikit maklum jika itu dilakukan di pesta perkawinan, tetapi ini fun land. Pemakai busana seperti ini biasanya pelit dalam membelikan koin anaknya. Saya melihat si anak yang berumur lebih dari enam tahun masih naik kuda-goyang satu koin. Dalam hal berbusana saya lebih menghargai gaya pesantren tradisional atau bahkan jilbab bercadar. Kelihatan kuno, tetapi berkarakter.

Karena sulit menikmati permainan game, akhirnya saya mengamati hal lain. Mata saya jatuh pada dua hal. Pertama petugas pencatat kendaraan parkir dan, kedua petugas pemberi salam. Saya akan bercerita tentang petugas pertama dahulu. Dia seorang perempuan dengan paras rata-rata. Sudah tiga tahun saya di Banda Aceh, sepertinya dia melulu yang mencatat saat motor saya masuk, mengulurkan tangan, menyerahkan tiket parkir. Tempatnya bekerja adalah sebuah box kayu ukuran 1 X 0,75 X 1,85 meter, dengan perangkat kerja komputer lenovo dan printer kasir. Waktu telah mengubahnya menjadi seorang spesialis. Bagi spesialis seperti dia pelanggan tidak penting, yang penting adalah plat nomor. Dia tidak sempat tersenyum apalagi menyapa. Ini adalah pekerjaan mata, sedikit otak, dan tangan. Sedangkan bibir harus istirahat.

Pegawai kedua yang saya amati adalah si tukang pemberi salam. Jika anda masuk ke fun land Banda Aceh pastilah ditegur dengan ramah, “selamat pagi pak, selamat siang bu.” Suatu saat saya memakai peci haji, langsung tegurannya berubah, “assalamu’alaikum pak haji.” Padahal saya pakai peci karena rambut terlambat dicukur. Jika anda keluar arena permainan juga akan ditegur, tentu dengan sapaan yang berbeda, “sampai berjumpa lagi”. Pegawai ini berjenis kelamin laki-laki, usia 25-an, tampang : angkutan umum L 300 jurusan Banda Aceh-Meulaboh. Baju kedodoran, celana belum setrika. Satu hal yang membedakan ia selalu memakai selempang fun land. Bangga nian dia. Ini pantas karena orang yang masuk dan keluar fun land akan melalui dia.

Bukan berarti fun land Banda Aceh tidak berubah. Saya agak terkejut saat datang ke fun land Banda Aceh akhir bulan ini. Perubahan besar rupanya telah dilakukan oleh managemen. Gadis tiket parkir nampak tersenyum ramah dan pejantan pemberi salam telah diganti dengan perempuan yang nyaris sempurna. AC ruangan lebih dingin. Beberapa petugas mondar-mondar menawarkan bantuan jika ada pengunjung yang kesulitan. Cleaning service selalu mobile menyasar sampah. Dari tidak kurang 50 jenis mesin mainan di sana, semuanya tampak kinclong dengan lay out baru. Pengunjung tentu lebih betah. Satu hal yang membuat saya bangga, ciri khas Aceh diperlihatkan : begitu masuk waktu sholat, segera terdengar pengumuman keras-keras “ waktu sholat telah tiba, mushola ada di luar sebelah kanan….”.

Tetapi tetap ada yang tidak berubah: ternyata pengunjung begitu mendengar pengumuman sholat tetap cuek. Saya berprasangka baik. Mungkin sebentar lagi, toh masih ada waktu 45 menit sebelum masuk waktu sholat isya. Begitu pengumuman sholat isya diperdengarkan, sama saja, masih banyak yang tidak beranjak. Saya masih berprasangka baik, oh mungkin ia orang luar kota sehingga boleh dijamak. Tetapi apakah sebanyak itu orang dari luar kota? Saya menyaksikan di fun land dan tempat keramaian lainnya di Aceh — tempat syariat Islam ditegakkan — Tuhan ditikam, beramai-ramai, berulang-ulang.

Akhirnya bulan ramadhan datang juga. Di awal bulan suci ini, Aceh adalah tempat istimewa. Masjid, Meunasah penuh dengan jamaah sholat tarwih. Di siang hari rumah makan tutup tanpa harus di sweeping. Awal bulan ramadhan adalah kemenangan gemilang agama terhadap budaya. Tetapi itu tidak bertahan lama. Budaya kita telah selingkuh dengan kapitalisme. Maka saksikan, selepas pertengahan ramadhan kondisi akan berbalik. Tempat ibadah akan jauh lebih lengang, sementara mall, pusat hiburan, pusat perbelanjaan akan penuh sesak. Puncaknya, diakhir-akhir ramadhan – saat Alloh menjanjikan lailatul Qadar – umat di manapun berada justru mencari suasana malam sebaliknya. Yaitu malam yang gegap gempita menyambut pesta budaya : lebaran. Pada saat itu tidak hanya di fun land, tetapi di mall, pusat hiburan, pusat perbelanjaan, terminal, stasiun kereta, bandara, jalan raya kembali menjadi saksi penikaman Tuhan. Dan…seperti biasa, saya dan keluarga akan menjadi penikam yang gagah perkasa. Sudahkah anda “mengasah pisau” masing-masing?

Senja Kalaning Doktor Mancing

30 Jun

oleh : margono dwi susilo

            Kebetulan saya pernah lulus strata dua managemen, sehingga di SK pangkat saya tertulis gelar Magister Managemen (MM). Tetapi teman saya lebih suka memplesetkan menjadi Magister Mancing, tentu karena saya suka mancing, atau memang dimata teman ini saya sama sekali tidak berbakat dalam managemen. Buktinya ruang kerja saya selalu berantakan. Mengatur meja saja susah apalagi anak buah. Makanya saya ikhlas saja disebut Magister Mancing. Ada Magister, tentu ada juga doktor. Hebatnya itu semua masih di kantor saya. Sang Doktor ini – Doktor Mancing maksudnya – namanya Sjamsul Bahri. Dari namanya beliau ini sudah diharapkan akan berjaya di lautan. Benarlah adanya. Ikan selalu mengumpul saat ia melepaskan pancing, tak peduli di laut, muara, sungai, atau alur kecuali empang. Pernah saya bertanya, mengapa tidak tertarik mancing di empang. Dengan enteng ia menjawab, empang untuk kelas pemula. Saya hanya tersenyum karena pernah ikut lomba mancing di empang. Saya menyaksikan sendiri kebesaran namanya saat mancing. Ceritanya begini :

Suatu sore di jembatan Ulee Lheue Banda Aceh telah berjajar puluhan pemancing dengan joran dan peralatan masing-masing. Umpan yang dipakai rata-rata udang hidup. Harganya cukup mahal, sebiji seribu perak. Ikan predator manapun – sekenyang apapun — akan tergiur dan segera menyambarnya. Para pemancing begitu yakin akan mendapat ikan besar karena air sedang pasang, saatnya ikan besar dari laut akan masuk ke muara melewati kolong jembatan yang baru diperbaiki tersebut. Lagi pula mereka pemancing yang berkelas. Setidaknya dari obrolan sudah ada yang pernah hanyut sampai perbatasan India. Tetapi banyak faktor yang mempengaruhi keberhasil memancing. Ini yang menjadikan mancing menarik dan tidak mudah. Satu, dua jam berlalu, tetapi tetap belum ada tarikan. Padahal air dan musim sedang bagus-bagusnya.

Lalu datanglah Sjamsul Bahri. Seperti biasanya tersenyum pada saya. Lalu dengan tenang dan percaya diri ia menyiapkan peralatan. Sederhana tetapi nampak bertuah. Bukan joran jutaan rupiah, hanya tali senar yang digulung pada sebentuk rol plastik seharga tiga ribu rupiah. Tidak lebih dari sepuluh detik umpan telah dipasang dan dilempar. Begitu lurus dan mantap. Hebatnya lagi, kurang dari lima menit, Sjamsul Bahri telah memperoleh tangkapan pertamanya, seekor ikan GT (Giant Travally) ukuran empat kiloan. Ikan sebesar ini di jembatan Ulee Lheue termasuk rekor yang akan bertahan berbulan-bulan. Dengan tenang ia melepas ikan dari hook dan menaruhnya di jaring biru yang telah disiapkan. Begitu tenang, bahkan ikan empat kiloan itu diam pasrah tanpa meronta sedikitpun, seolah bersyukur pada takdir karena telah ditangkap oleh Sang Doktor. Setelah melepas umpan kedua, seperti biasa, Sjamsul Bahri mengambil sebatang rokok – Djie Sam Soe – lalu menyulut, menghisap dalam-dalam dan melepaskan asapnya ke udara. Ini ritual bertaraf sunah muakad bagi orang yang telah mencapai puncak kematangan.

Tepat saat rokoknya habis, Sjamsul Bahri telah memperoleh tangkapan kedua, seekor ikan jenis kerapu ukuran sedang. Rupanya ikan ber IQ rendah ini cukup tahu kapan harus makan umpan yaitu saat sang doktor menyelesaikan ritual merokoknya. Yang membuat saya kaget, satu per satu pemancing di jembatan itu pada pindah tempat. Selintas saya menangkap keluhan sekaligus kekaguman para pemancing tersebut, “kalau ada Sjamsul mana bisa kita dapat ikan.” Sejak itu saya percaya bahwa Sjamsul Bahri, teman saya satu kantor itu, adalah doktor mancing.

Karena kesibukan kantor, kini saya jarang mancing sehingga tidak lagi bertemu Sjamsul Bahri di Ulee Lhueu, Lam Jamee, Lamteh, Krueng Raya, Alue Naga dan Ujong Pancu. Itulah tempat favorit kami selama ini. Karena kesibukan pula, di kantorpun saya jarang ngobrol lama dengannya. Sehingga saya agak terkejut tatkala bertemu di kantin, doktor kita ini kelihatan jauh lebih tua. Saat itulah saya mengamati ia betul-betul, ya sudah jauh lebih tua. Dengan sangat tidak percaya diri ia juga bercerita bahwa lima bulan lagi ia akan pensiun. Menjelang pensiun ini ia juga belum mempunyai rumah sendiri. Yang lebih memprihatinkan anak perempuannya sakit buta permanen. Semenjak di kantin itu saya menyadari bahwa selama ini saya kurang perhatian padanya. Saya hanya bersua saat kebutuhan mancing tiba, selepas itu masing-masing.

Akhirnya, suatu pagi saat liburan kantor, saya bisa bertemu lagi dengan Sjamsul Bahri saat mancing di Jembatan Lamteh. Seperti biasa ia selalu mendapat tarikan ikan, walau kali ini jarang dan kecil-kecil. Seperti biasa, saya juga mengamati ritual merokoknya. Yang membuat saya trenyuh kini rokoknya bukan lagi Djie Sam Soe, tetapi rokok murahan yang saya sendiri tidak tega menyebutkan merk-nya. Saya menyadari era kejayaan doktor mancing kita ini akan segera berakhir. Senja Kalaning Doktor Mancing. Dan saya semakin menyadari bahwa saya kurang perhatian padanya. Pagi itu saya tidak sanggup lagi mancing bersamanya, saya pindah ke suatu tempat yang belum di jamah manusia.

NEO-KHAWARIJISME: PERANG SHIFFIN HINGGA PEMBUNUHAN TUHAN

28 Jun

oleh : margono dwi susilo

             Shiffin, 37 H (657 M).

Dua ratus ribu lebih pasukan saling berhadapan. Seratus dua puluh ribu pasukan berada dipihak Muawiyah, sisanya berada dipihak Amirul Mukminin, Ali bin Abi Thalib. Kedua kubu bersiap saling menghancurkan. “Demi Alloh, Ali lebih baik dan lebih berhak dalam hal kekhalifahan dari pada aku” begitu dahulu ucapan Muawiyah pada sahabatnya. Tetapi mengapa perang ini harus terjadi. “Ini demi darah Utsman, kalian tahu aku masih kemenakannya. Jika Ali mau bertindak tegas pada kaum pembunuh Utsman, akulah orang pertama yang akan baiat kepadanya.”

Utsman bin Affan adalah Khalifah ketiga yang menjabat setelah Umar bin Khatab. Semasa pemerintahannya beliau diguncang isu tidak sedap, korupsi dan nepotisme. Lewat mimbar Sholat Jumat di Madinah Utsman menangkis tuduhan itu “kalian tahu sebelum datangnya islam dan semasa Rasulullah SAW saya termasuk orang yang paling kaya diantara kalian, tetapi kini lihatlah, setelah menduduki jabatan ini saya tergolong tak berpunya” lanjutnya “tentang pergantian pejabat itu percayalah saya telah menempatkan orang terbaik diantara orang yang aku kenal betul watak dan perilakunya.”

Rakyat percaya Utsman benar, tetapi tidak demikian dengan orang yang dicopot dari jabatannya. Persekongkolan semakin kuat yang berujung pada pembunuhan terhadap Utsman. Pembunuhnya adalah mereka – kelompok ini kelak disebut sebagai khawarij — yang merasa sebagai penjaga kesucian islam. Kelompok ini berdalil, seorang muslim yang berdosa besar berarti telah kafir dan halal darahnya. Hukum terhadap pendosa itu adalah bunuh. Utsman menjadi korban dari fanatisme kaku dan sempit ini.

Sepeninggal Utsman, Ali oleh kalangan Muhajirin, Anshar dan penduduk jazirah Arab dibaiat sebagai khalifah. Menyusul kemudian penduduk Irak. Mengetahui sebagian besar komunitas muslim melakukan baiat kepada Ali maka segera kaum khawarij mencari perlindungan hukum dan politik dengan ikut membaiat Ali. Muawiyah bertambah gusar. Ali sebenarnya tahu bahwa kelompok khawarij yang melakukan pembunuhan terhadap Utsman. Tetapi menghukum khawarij saat seperti ini bukan pilihan politik yang tepat. Khawarij jumlahnya cukup besar dengan kemampuan tempur yang mengagumkan. Ali menginginkan stabilitas terlebih dahulu baru menghukum orang khawarij yang terlibat langsung dalam pembunuhan. Tetapi Muawiyah menolak alasan Ali. Sejarah mencatat khawarij menjadi detasemen yang paling tangguh dalam membela Ali, tak terkecuali di Shiffin.

Darah Utsman telah dijadikan komoditas perangsang perang. Tatkala utusan Ali datang ke Damaskus untuk meminta Muawiyah baiat kepada Amirul Mukminin, jubah Utsman yang berlumuran darah dipajang di serambi masjid agung Damaskus. Dengan menggelora Bani Umayah berorasi. Rakyat Syiria berteriak histeris dan bersumpah menuntut balas kematian Utsman. Mereka begitu mencintai khalifah yang lembut dan dermawan itu. Berbekal itu Muawiyah mampu menggerakkan seratus ribu pasukan menyongsong pasukan Ali yang telah berderap menyeberangi sungai Eufrat. Sebentar lagi dua pasukan terbaik dari ras Arab itu akan saling menghancurkan.

Sementara itu di ujung timur dan barat, dua kekaisaran kuno, Romawi dan Persia, menunggu dengan harap-harap cemas. Sungguhpun demikian harapan terbesar mereka agar kedua legiun Arab itu saling menghancurkan tanpa satupun tersisa. Dengan demikian mereka bisa mengambil kembali Mesir, Afrika Utara, dan Irak yang telah dianeksasi bangsa Arab. Mereka tahu bahwa yang berkumpul di Shiffin adalah orang-orang terpilih, kehancuran mereka adalah kehancuran Arab, sekaligus kehancuran…Islam. Kuil dan tempat ibadah mereka penuh sesak dengan pendeta dan kaum yang mendoakan kehancuran itu.

Doa itu hampir terkabul tatkala pada hari kesepuluh perang total, masing-masing kubu telah kehilangan separuh dari jumlah pasukannya. Kuil-kuil Roma dan Persia semakin deras mendendangkan kemusnahan kaum muslimin. Tetapi medan perang mengabarkan keajaiban “Ammar terbunuh! Ammar terbunuh!” Berita itu sejenak menghentikan gemuruh perang. Semua yang berperang di Shiffin tahu betul bahwa Rasul SAW pernah bersabda Ammar akan terbunuh ditangan kaum pembangkang. Kubu Muawiyah terperanjat karena kini mereka sadar telah membela yang bathil, sebaliknya kubu Ali semakin yakin bahwa mereka akan memenangkan perang dan menyatukan kekhalifahan. Seketika Shiffin gempar.

Tetapi Amru bin Ash – panglima Muawiyah dan Gubernur Mesir – berpendapat lain : “kematian Ammar adalah kesalahan Ali karena Ali yang mengajak Ammar ikut perang ini, dialah Ali sang pendusta itu.” Perkataan Amru mampu membangkitkan kembali moral pasukan yang anjlok, tetapi tidak untuk seluruhnya. Menjelang sore, sepuluh ribu pasukan Muawiyah tumbang tak bangkit lagi. Perang yang ganas itu ditutup dengan sendu oleh matahari yang sekarat di peraduan : malam.

Tanpa lelah Bani Umayah berkeliling ke seluruh tenda pasukan mengingatkan tujuan sebenarnya dari perang : menuntut hukum qishos terhadap darah Utsman. “Wahai orang Syiria apakah anda tidak mencintai Utsman?” terdengar koor panjang “kami mencintai!” Orasi itu terus berlanjut, “kalian akan menjadi saksi di akherat bahwa darah yang tertumpah itu belum kalian balas.” Kembali orang orang Syiria meratap-ratap histeris dan bersumpah untuk Utsman. Amru bin Ash yang paling senang dengan histeria itu. Baginya perang ini adalah jaminan ia tetap menguasai Mesir. Walau demikian orang Syiria tahu benar bahwa Rasul SAW tidak pernah salah. Ya, Ammar telah terbunuh oleh pedang dan tombak mereka. Wajah Ammar membuat legiun Syiria susah tidur malam itu.

Saat adzan subuh berkumandang tentara Syiria tergopoh-gopoh untuk menegakkan sholat. Sementara diseberang sana, pasukan Ali bin Abu Thalib telah berjajar rapi membentuk shaf. Pada waktu yang hampir bersamaan kedua pasukan terbaik di dunia pada masanya itu sujud menghadap Ka’bah. Shiffin hening. Lantunan ayat suci Qur’an membelah subuh, berkisah tentang surga, neraka, perang dan damai; berbenturan dengan udara dingin, pasir dan kehancuran perang. Kedua kubu teringat masa-masa bersama Rasul SAW. Subuh itu isak tangis terdengar di Shiffin. Hanya orang seperti Amru yang tidak luluh hatinya. Baginya kebun kebun di Mesir lebih menggiurkan dari selainnya.

Sejak itu dari kedua kubu telah timbul kekhawatiran, jika perang ini berlanjut lima hari lagi maka Arab akan kehilangan pasukan terbaiknya. Terus siapa yang akan menjaga perbatasan timur dan barat? Amru bin Ash bukan tidak tahu tentang ini. Dialah yang justru berpandangan jauh. “Kumpulkan mushaf Al-Qur’an, lalu ikatlah pada ujung tombak kalian,” begitu perintah Amru. Orang-orang mengikuti perintah itu tanpa bertanya lagi. Dengan lantang ia perintahkan pasukan Kaveleri dan Infanteri untuk maju memberi pukulan terakhir pada serdadu Ali. “Hancurkan pembunuh Utsman, raihlah kemulian.” Tetapi tentara Ali sudah siap. Golongan fanatik khawarij berada di barisan depan. Merekalah yang selama ini memberikan pukulan mematikan bagi tentara Syiria.

Dengan kecepatan, kekuatan dan keterampilan yang mengagumkan kedua kubu kembali berbenturan dengan dahsyat, saling menusuk, menerjang dan menebas. Hujan panah memenuhi langit Shiffin. Mereka berperang sampai tombak hancur, pedang patah dan panah kosong. Kuda, Onta dan manusia bergelimpangan kehilangan nyawa, remuk terinjak sehingga susah dikenali lagi. Tidak ada satupun prajurit yang melarikan diri dari medan perang. Semua bertempur membela kebenaran yang ia percayai. Tetapi segera terlihat pasukan Ali lebih unggul. Perlahan namun pasti kubu Amirul Mukminin mulai mendesak lawan. Walau orang Syiria dan para komandan Muawiyah bertempur dengan gigih tetap tidak mampu memotong gerak pasukan Ali. Menjelang tengah hari kubu Irak yakin dapat menghancurkan Syiria.

Amru waspada, pasukannya diambang kehancuran. Disaat yang genting ia perintahkan orang-orangnya untuk mengangkat mushaf Al-Quran seraya memekik “mari bertahkim pada Kitabullah!” Segera sekitar lima ratus mushaf Al-Quran yang terikat pada tombak diacung-acungkan ke udara “mari bertahkim pada Kitabullah!” berulang ulang orang Syiria berteriak. Pasukan Ali panik. Sebagian masih melanjutkan perang, sebagian justru tidak bergerak. Menilik situasi, dari punggung kudanya Ali merangsek ke medan perang seraya berkata “lanjutkan perang, aku kenal watak mereka, itu semua hanya tipu daya!” Seperti sengatan listrik, pasukan Ali maju kembali menggempur lawan. Kini jelas legiun Syiria beserta Banu Umayah menunggu detik kehancuran. Tinggal beberapa lapis lagi pasukan terdepan Ali akan mampu menjangkau dan menghabisi Muawiyah.

Arkian, dari kejauhan intelijen Persia memantau situasi tatkala dilihatnya beberapa komandan khawarij justru balik arah menuju Ali. Dengan nada bengis salah satu komandan khawarij menuntut pada Ali “tidakkah engkau melihat mereka meminta tahkim atas nama Kitabullah? Penuhilah atau aku akan memperlakukanmu seperti kami memperlakukan Utsman.” Ali tidak bisa berbuat apa-apa dan memerintahkan pasukannya menghentikan perang. Dengan kebingungan pasukan Irak mundur sambil bertanya-tanya “ada apa ini?, demi Alloh aku akan menghancurkan Muawiyah dalam beberapa gebrakan lagi.” Melihat pasukan Ali mundur Amru meminta Muawiyah agar mengajukan tahkim (arbitrase) pada Ali. Syiria lolos dari maut. Ras Arab lolos dari kehancuran total. Islam luput dari kematian dini. Seketika api pemujaan di Roma dan Persia padam.

************

Sejarah mencatat arbitrase dilakukan di Daumatul Jandal pada 37 H/657 Masehi. Ali pada mulanya menunjuk Abdullah bin Abas sebagai hakim mewakilinya. Tetapi kaum khawarij menentang, dan akhirnya ditunjuklah Abu Musa Al As’ari – generasi tua yang sangat bijak tetapi tidak mahir politik. Sedangkan dari pihak Muawiyah mantab mengutus Amru bin Ash – ahli strategi paling hebat yang dimiliki Arab. Dalam arbitrase tersebut Ali kehilangan jabatan sebagai khalifah dunia islam dan dipaksa puas menguasi distrik di Irak, sementara Muawiyah semakin kukuh mencengkeram Damaskus. Muawiyah dan Amru ternyata bukan pemimpin sembarangan, lambat tapi pasti Dinasti Muawiyah diakui sebagai Khalifah dunia islam bahkan kekuasaannya meluas sampai semenanjung Iberia (Spanyol, sebagian Portugal dan sebagian Perancis) yang terus memunculkan kekaguman sampai sekarang. Sedangkan kelompok Ali justru terpecah belah.

Karena tidak puas dengan hasil arbitrase, golongan khawarij menyatakan keluar dari kelompok Ali. Ketidakpuasan tersebut dilanjutkan dengan melakukan provokasi dan teror, baik ke Kubu Ali maupun Muawiyah. Siapa saja yang mendukung hasil arbitrase dianggap sesat dan kafir. Tiga orang divonis mati oleh Khawarij : Muawiyah, Amru dan Ali. Muawiyah dan Amru yang telah mengembangkan sistem pengawalan ala kaisar Romawi dan Persia lolos dari pembunuhan, sedangkan Ali – khalifah yang sederhana itu – terbunuh oleh agen khawarij bernama Abdurahman ibnu Muljan pada 17 Ramadhan 40 Hijriah selepas sholat. Sejak itulah dalam tubuh umat islam muncul ideologi mematikan : jika kamu dosa maka kamu kafir, jika kamu kafir kamilah yang akan menghukummu, sekarang juga. Sejak itulah peran Tuhan disingkirkan oleh manusia yang merasa paling mengerti tentang kehendak-Nya.

*************

Setelah perang dunia II tutup buku berdirilah negeri bernama Nusantara Indonesia, negeri yang rakyatnya senantiasa lapar sejak jaman raja-raja berkuasa. Selepas prahara komunisme, negeri ini mencoba mengisi perut rakyatnya dengan berdamai pada penguasa dunia modern yang kebetulan tidak menganut syariat Rasul mulia. Keberhasilan dan kegagalan mewarnai Indonesia. Tetapi lihatlah ada kelompok yang menilik situasi dengan putus asa : kegagalan Indonesia karena bersekutu dengan penguasa kafir. Kesimpulannya, penguasa Indonesia kafir, ujung-ujungnya rakyatpun telah kafir.

Fajar abad 21. Bom mengguncang negeri tercinta, menimpa siapa saja, teman, saudara bahkan keluarga kita. Neokhawarij menyasar korban dalam kondisi apapun, saat sedang maksiat bahkan sholat. Dengan leluasa ia menetapkan hukum dan kategori sendiri seolah kini Tuhan telah mati.

MERAH PUTIH BENDERA RASULULLAH SAW

27 Jun

Oleh : Margono Dwi Susilo

 

Memasuki bulan Agustus, bendera merah putih semarak menghiasi langit nusantara menghormati proklamasi Soekarno-Hatta. Hal demikian sudah rutin selama puluhan tahun, sehingga tidak ada kebanggaan yang lebih. Lain misalnya jika merah putih berkibar di ajang piala dunia FIFA World Cup.  Dijamin langit nusantara akan semarak dengan merah putih, tanpa harus menunggu bulan Agustus. Tidak ada yang perlu disesali, zaman telah berubah.

Yang patut disesali adalah bahwa merah-putih oleh sebagian masyarakat masih ditafsirkan sebagai “reinkarnasi” simbol-simbol Jawa. Memang Muhammad Yamin menuliskan merah putih (gula kelapa) merupakan bendera kerajaan Majapahit yang beribu kota di Trowulan Jawa Timur, dan pernah pula dipakai oleh Kerajaan Mataram di Jawa Tengah. Kombinasi merah putih dipelihara oleh tradisi Jawa, misalnya dalam upacara selamatan yang menggunakan jenang abang putih (bubur merah putih). Atau dalam pembuatan rumah di kampung-kampung di Jawa masih mensyaratkan adanya kain merah putih yang dibalutkan pada blandar, kayu yang digunakan untuk penyangga kuda kuda atap rumah.  Stigma Jawa masih bisa diperpanjang jika kita lihat misalnya pada Candi Borobudur (dibangun tahun 824 Masehi) yang pada dindingnya menampilkan tiga orang perwira yang mengibarkan “pataka” atau bendera. Gambar “pataka” tersebut menurut seorang pelukis berkebangsaan Jerman dilukiskan dengan warna merah putih.

Agama Hindu yang mendominasi Nusantara lama (dan Bali saat ini) juga memberi penghormatan yang tinggi pada merah putih dan burung garuda. Dalam alam pikiran masa Hindu, bangsa Indonesia berpegang pada nilai filosofis atau makna garuda sebagai salah satu aspek kemahakuasaan Tuhan Yang Maha Esa sebagai burung merah putih (sveta-rakta-khagah) yang mempunyai misi untuk membebaskan umat manusia dari belenggu perbudakan atau penjajahan, baik penjajahan jasmani maupun belenggu dunia material yang menyesatkan.

Muhammad Yamin tentu saja tidak setuju jika merah putih merupakan warna tipikal Jawa atau mewakili agama tertentu. Yamin menegaskan bahwa Kerajaan Sriwijaya di Sumatera yang Budhis juga menggunakan warna ini. Tradisi orang Papua juga menghormati merah putih, misalnya dengan “pepeda” (campuran sagu putih dengan buah soradi berwarna merah). Dalam bukunya yang terkenal, 6000 Tahun Sang Merah Putih (terbit tahun 1951), Yamin menegaskan bahwa usia sang merah putih telah mencapai 6000 tahun, jauh sebelum kebudayaan Jawa terdefinisikan dan sebelum Hindu mendominasi Nusantara.

Menurut Yamin, sekitar 6000 tahun yang lalu terjadi perpindahan orang-orang Austronesia ke Nusantara Indonesia melalui semenanjung Malaya dan Philipina. Pada zaman itu manusia memiliki cara penghormatan atau pemujaan terhadap matahari dan bulan. Matahari dianggap sebagai lambang warna merah dan bulan sebagai lambang warna putih. Sehingga zaman itu disebut pula zaman aditya candra. Aditya berarti matahari, candra berarti bulan. Penghormatan terhadap merah putih seusia migrasi orang-orang yang kelak di sebut bangsa Indonesia 6000 tahun yang lalu. Sama sekali tidak ada hubungannya dengan suku atau agama tertentu.

Bendera Islam dan Bendera Rasulullah SAW

Kombinasi bulan sabit dan bintang telah identik dengan dunia Islam, sejajar dengan salib di dunia Kristen, bintang David pada Yahudi, mandala Budhisme. Tercatat ada sepuluh negara yang mayoritas berpenduduk muslim menggunakan bendera bulan sabit dan bintang (atau bulan sabit saja) antara lain Turki, Komoro, Tunisia, Aljazair, Mauritania, Maladewa, Pakistan, Malaysia, Turkmenistan dan Uzbekistan.

Cukup unik bendera Singapura, merah putih yang berhiaskan bulan bintang. Padahal kita tahu Singapura bukan negara berpenduduk mayoritas Islam apalagi negara Islam. Penggunaan merah putih kemungkinan merupakan kesadaran orang Singapura yang dahulu bernama Tumasik, salah satu vasal imperium Majapahit. Tokoh Melayu Malaysia Ibrahim Yacob pernah bercita-cita mendirikan Indonesia Raya (gabungan Indonesia dan Malaysia, termasuk Singapura) dengan bendera kebangsaan merah putih. Presiden Sukarno sangat mendukung ide tersebut. Tetapi penyatuan tersebut gagal karena Kesultanan di Malaysia lebih suka Malaysia menjadi negara persemakmuran Inggris dari pada bergabung dengan Indonesia. Kini, Malaysia masih menggunakan bulan dan bintang tetapi melepas merah putih.

Yang mengejutkan justru negara negara di jazirah Arab tidak menggunakan bulan sabit dan bintang sebagai bendera atau lambang negara. Sebut saja Saudi Arabia, berbendera warna dasar hijau dengan tulisan arab dua kalimah syahadat dengan kombinasi pedang zulfikar di bawah. Penggunaan warna dasar hijau juga mengejutkan karena menurut beberapa hadits, Rasulullah SAW mengibarkan panji berwarna hitam dengan bendera berwarna putih. Warna hijau ini tidak lepas dari paham wahabisme yang menjadi ideologi Dinasti Al-Saud yang mendirikan Kerajaan Saudi Arabia setelah berakhirnya perang dunia kedua. Sejak itu warna hijau juga diasosiasikan dengan islam bersama-sama dengan bulan bintang. Di Indonesia partai politik dan organisasi massa yang berazaskan atau bernafaskan islam juga ikut-ikutan menggunakan warna dasar hijau. Karpet masjid juga sering berwarna hijau.

Bendera atau simbol “bulan sabit dan bintang” berkembang pesat sebagai ciri khas dunia Islam saat Turki Ustmaniyah sebagai Khilafah Islam terakhir menggunakannya sebagai bendera Kekhalifahan. Kesultanan Aceh merupakan entitas politik yang mempunyai hubungan khusus dengan Turki Ustmaniyah. Pada abad ke-16 Sultan Aceh Alauddin Riayat Syah mengirim Duta Besar Husain Effendi ke Istanbul meminta bantuan pasukan untuk memerangi Portugis yang hendak menyerang Aceh, dengan imbalan Aceh mengakui Turki sebagai khilafah dunia islam. Sultan Turki, Selim II mengabulkan permintaan tersebut dengan mengirimkan Armada Suez yang dipimpin Laksamana Kurtoglu Hizir Reis. Dengan bantuan Turki Aceh terlepas dari penjajahan Portugis. Saat rekonstruksi Aceh pasca Tsunami, Turki memberi bantuan yang besar, salah satunya gedung ACC (Aceh Comunity Center) Sultan Selim II dengan prasasti yang mengingatkan peristiwa abad ke-16 itu. Karena hubungan yang istimewa ini Kesultanan Aceh mendapat “hadiah” bendera merah bulan bintang dari Ustmaniyah. Bendera ini dipelihara selama berabad-abad oleh bangsa Aceh. Bendera warisan Turki tersebut lalu dimodifikasi oleh Hasan Tiro menjadi bendera GAM (Gerakan Aceh Merdeka), berwarna dasar merah dengan dua strip hitam/putih horisontal dengan lambang bulan sabit dan bintang. Lambang yang mirip pernah juga digunakan oleh DI/TII. Apakah memang bulan bintang merupakan simbol otentik islam?

Bukti-bukti menunjukkan bahwa lambang bulan sabit dan bintang telah lama digunakan sebelum masa Islam. Masyarakat Yunani yang mendirikan kota Byzantium sejak 670 SM menggunakan lambang tersebut dalam kaitannya dengan penyembahan Artemis, Dewi Bulan dan perburuan. Byzantium jatuh ke tangan Romawi pada abad ke-2 SM. Ketika Kaisar Konstantine I berkuasa (306-337 M) ia mengadakan perubahan penting, Byzantium menjadi Konstatinople, lambang bulan sabit ditambah dengan bintang yang melambangkan Bunda Maria, Ibunda Yesus. Sejak itu bulan sabit dan bintang menjadi simbol Konstantinople, ibukota Romawi Timur. Konstantinople jatuh ke tangan Turki Ustmaniyah pada tahun 1453 M. Turki begitu bangga dengan penaklukan itu, sehingga simbol bulan sabit dan bintang digunakan oleh berbagai laskar Ustmaniyah. Selanjutnya, bulan sabit dan bintang bahkan menjadi bendera Turki Ustmaniyah.

Imperium Persia juga menggunakan bulan sabit dan bintang. Bahkan lambang tersebut tercantum pada mata uang yang dikeluarkan oleh Khosrau II. Dialah Kisra yang merobek-robek surat Rasulullah SAW. Dengan kenyataan sejarah seperti itu masihkah kita menganggap bulan bintang sebagai simbol otentik islam?

Akhir akhir ini muncul organisasi yang mengusung ide khilafah, seperti Hizbut Tahrir, yang menggunakan panji warna hitam dengan tulisan dua kalimah syahadat dan bendera warna putih dengan tulisan sama. Hizbut Tahrir menegaskan itulah panji dan bendera Rasulullah sesuai riwayat beberapa hadits. Walau telah ada pendapat yang menyatakan bahwa panji berwarna dasar hitam sesungguhnya merupakan panji Bani Abasiyah yang sudah ada sebelum islam. Sedangkan warna putih boleh jadi merupakan warna universal yang bermakna kesucian atau perdamaian. Perlu diingat bahwa saat Rasulullah menaklukan Mekah dengan damai (futuh Mekah), bendera putih itulah yang dikibarkan oleh kaum muslimin pengikut Rasulullah.

Lain lagi pendapat sejarawan Ahmad Mansur Suryanegara. Menurutnya Sang Saka Merah Putih merupakan sumbangan dari ulama Indonesia. Para ulama berjuang untuk mengenalkan Sang Saka Merah Putih adalah bendera Rasulullah SAW dengan mengajarkannya kembali sejak abad ke-7 M atau abad ke-1 H, bersamaan dengan masuknya agama islam ke Nusantara. Kemudian, Sang Saka Merah Putih dibudayakan dengan berbagai sarana : pertama, pada setiap pembicaraan atau pengantar buku diucapkan atau dituliskan “sekapur sirih” dan “seulas pinang”. Tidakkah kapur dengan sirih akan melahirkan warna merah dan apabila buang pinang diiris akan terlihat di dalamnya berwarna putih? Kedua, budaya menyambut kelahiran dan pemberian nama bayi, serta tahun baru islam dirayakan dengan menyajikan bubur merah putih. Ketiga, pada saat membangun rumah, di suhunan atas dikibarkan Sang Merah Putih. Keempat, setiap hari Jumat, mimbar di Masjid Agung atau Masjid Raya dihiasi dengan bendera merah putih. Warna ini sengaja dibaurkan dengan adat kebiasaan agar lestari dan dapat diterima oleh semua golongan.

Tentang merah putih merupakan bendera Rasulullah SAW, Ahmad Mansur Suryanegara menukilkan hadits yang diriwayatkan Imam Muslim dalam Kitab Al Fitan, Jilid X, halaman 340, dari Qasthalani (pengalih bahasa Drs.Muhammad Zuhri tahun 1982), sebagai berikut : Rasulullah SAW bersabda Innallaha zawaliyal ardha, masyaariqaha wa maghariba ha wa a’thanil kanzaini ‘Al-Ahmar wal Abjadh’ (artinya Allah menunjukkan kepadaku dunia, menunjukkan pula timur dan barat, menganugerahkan dua kazanah kepadaku “Merah-Putih.”

Lebih jauh Ahmad Mansur Suryanegara menerangkan bahwa warna merah digunakan untuk memanggil nama-nama istri para Nabi. Adam as memanggil istrinya Siti Hawa ra yang artinya hautun atau merah. Rasulullah SAW memanggil Siti Aisyah ra dengan humairah yang artinya merah. Demikian pula dalam penulisan Al-Quran, huruf Alloh dan kata gantinya dituliskan atau dicetak dengan warna merah. Busana Rasulullah SAW yang indah juga berwarna merah. Busana warna putih juga dikenakan beliau. Sarung pedang Rasulullah SAW dan Sayidina Ali pun berwarna merah. Sementara sarung pedang Khalid bin Walid berwarna merah putih. Warna merah putih adalah lambang kehidupan. Merah merepresentasikan darah, putih merepresentasikan air susu ibu. Oleh karena itu kelahiran bayi disertai dengan pembuatan bubur merah putih.

Tidak jelas teori siapa yang lebih unggul, Yamin atau Mansur Suryanegara. Kalau kita perhatikan genre tulisan Yamin memang ada kesan bahwa beliau alergi dengan nasionalisme Islam, sehingga ide-ide yang terkait dengan Islam dikesampingkan. Sebaliknya Mansur Suryanegara menuduh bahwa sejarawan Indonesia, termasuk Yamin, justru mengikuti tradisi berpikir Belanda yang terlalu mengagungkan kejayaan Nusantara lama tanpa mampu melihat kontribusi peradaban Islam (Api Sejarah, Salamadani, 2009).  Dari sisi ini Penulis melihat bahwa Mansur Suryanegara mengajak bangsa Indonesia untuk melihat sejarah secara lebih adil. Bukan tidak mungkin bahwa merah putih adalah warna Islami, bendera Rasulullah SAW yang “tertimbun” oleh adat kebiasaan masyarakat Indonesia.

Sang Saka Merah Putih telah berusia 65 tahun sejak ditetapkan dalam konstitusi 1945 sebagai bendera negara. Sebagai bendera kebangsaan ia telah diterima sejak sumpah pemuda 1928. Tetapi sebagai bagian dari sejarah manusia nusantara, merah putih telah dihormati seiring dengan migrasi ras Austronesia 6000 tahun yang lalu. Merah putih adalah “bendera” Rasulullah SAW yang dilebur oleh ulama dalam adat kebiasaan masyarakat nusantara agar lestari dan diterima oleh seluruh golongan. Sebaliknya bulan bintang yang secara turun temurun kita anggap sebagai simbol islam justru berasal dari budaya lain.

Kita peringati kelahiran Indonesia, kita peringati pula kibaran pertama merah putih di Pegangsaan Timur Nomor 56 Jakarta. Dirgahayu Indonesiaku.

Soeharto “the untold stories” : Darah Ditukar Nasi

27 Jun

oleh : margono Dwi Susilo

            Saat ini telah dilounching buku “Soeharto : The Untold Stories” yang merupakan sumbangan dari kurang lebih 113 mantan tokoh/pejabat/awam yang pernah mempunyai pengalaman menarik dengan Suharto. Bahkan empat tokoh negara sahabat, Mahathir Muhammad, Lee Kuan Yew, Fidel Ramos dan Sultan Hasanal Bolkiah ikut menuliskan pengalamannya. Buku itu diluncurkan 8 Juni 2011 bertepatan dengan haul Suharto ke-90. Jika tokoh lain acara haul diisi dengan doa dan kenduri, Suharto dengan buku, sesuatu yang patut diapresiasi tinggi. Saya yang tinggal di Banda Aceh belum bisa membeli buku tersebut, dan seperti biasa saya SMS teman di Jakarta agar dibelikan buku untuk dikirim ke Aceh. Tetapi biasanya kiriman telat. Mungkin selama ini saya salah karena mempercayakan pembelian/pengiriman buku pada seorang teman yang hobinya koleksi jam tangan.

            Dari informasi di internet buku itu menarik, paling tidak Jenderal (purn) Sutanto  mengklarifikasi bahwa tidak benar Ibu Tien meninggal karena peluru nyasar dari pistol pertikaian Tommy dan Bambang. Itu fitnah kejam, karena Ibu Tien meninggal akibat serangan jantung dan sempat dirawat di Gatot Subroto. The Untold Stories juga menceritakan bahwa Suharto hobinya mancing dilaut, tetapi Ibu Tien selalu menasehati “awas jangan mancing ikan rambut panjang” yang tentu maksudnya jangan main perempuan. Istri saya sampai saat ini tidak melarang saya mempunyai hobi mancing, alasannya satu : jarang perempuan mau diajak panas-panas hanya untuk mancing. Jadi mancing adalah hobi yang sedikit mempunyai akibat sampingan selingkuh.

            Sebagai wong ndeso saya tentu tidak kenal secara pribadi dengan Suharto. Beliaupun tidak pernah datang ke daerah kami (Gawok, sebuah nama yang bikin malu). Level presiden tentu akan “jatuh harga” jika berkunjung ke sebuah nama yang memalukan tersebut. Tetapi bukan berarti Suharto melupakan Gawok atau kampung-kampung udik lainnya dipelosok Nusantara. Tidak sama sekali, dan itulah kelebihan Suharto. Selepas Gestok (baca: G30S/PKI) status orang PKI diklasifikasikan menjadi 3 : A (terlibat langsung, dihukum penjara atau mati), B (terlibat tidak langsung, dibuang ke Pulau Buru), dan C (simpatisan saja, dilepas tetapi diawasi). Golongan B dan C ini banyak sekali di Jawa Tengah. Ini maklum karena waktu itu PKI merupakan partai politik yang legal bahkan meraih posisi 4 besar dalam pemilu 1955. Celakanya status B dan C ini selalu abu-abu, sehingga fitnah kecil saja menjadikan orang melompat dari C menjadi B, dan akibatnya fatal, ia harus mengalami masa kelam di Pulau Buru. Bukan itu saja, Orde Baru – meniru legenda mpu Gandring – mengembangkan konsep dosa turunan, artinya anak turun eks PKI dianggap bersalah dan berbahaya sehingga hak-hak dicabut atau setidaknya dihalangi.

            Inilah yang menimbulkan ketidakpuasan sehingga di daerah saya banyak orang antipati kepada Suharto. Tetapi tentu Suharto bukan orang bodoh, beliau tahu apa yang rakyat mau. Sekonyong-konyong di awal tahun 70-an Suharto melancarkan pembangunan. Yang mengesankan pembangunan itu juga menyentuh rakyat kecil, sektor pertanian. Perhatikan : jaringan irigasi dibangun di seluruh nusantara. Kampung saya juga mendapat berkah irigasi. Sejak itu kami bisa panen tiga kali dalam setahun. Sejak itulah kelaparan yang selalu mendera sejak jaman Sultan dan Raja berakhir. Dan Suharto yang mengakhiri. Lambat laun antipati itu hilang dan berganti dengan kesetiaan. Jika di kultur Arab berlaku darah dibayar darah, maka Indonesia lebih lembut “darah dibayar nasi”.

            Sejak tahun 2008 sebagai PNS saya ditempatkan di Aceh. Sampai dengan tahun 2010 yang lalu kami mendapat penugasan untuk melakukan Inventarisasi dan Penilaian terhadap aset pemerintah pusat yang ada di Aceh, termasuk jalur kereta api, bendungan, jembatan dan  saluran irigasi. Saya mendapati bahwa memang benar prasasti pembangunan atas nama Suharto ataupun Menterinya bertebaran di pelosok Aceh. Proyek itu sekarang masih berfungsi walau tidak terawat. Jika tiba-tiba dunia ini runtuh dan peradaban nusantara ditelan bumi, lalu 1000 tahun lagi saat anak cucu kita menggali benda-benda arkeologi, tentu mereka akan banyak menemukan prasasti atas nama Suharto. Buku sejarahpun secara jujur akan direvisi, bahwa beliau benar-benar pemimpin besar, Bapak Pembangunan. Haruskah kita menunggu 1000 tahun lagi untuk sekedar menghargai dan menghormati?

Hello world!

27 Jun

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can alway preview any post or edit you before you share it to the world.
Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.